Politikus= bajingan?

September 15, 2006

Alkisah, sebuah bis yang membawa anggota DPR yang sedang rekreasi masuk ke sebuah jurang yang sangat terjal. kecelakaan itu diketahui oleh petani yang kebetulan sedang berada ditempat tersebut. tak berapa lama datanglah rombongan SAR dan polisi. apa yang didapati oleh rombongan sar dan polisi itu adalah bahwa semua anggota DPR itu telah di kubur oleh petani. polisi menanyakan kepada para petani apakah sedemikian dahsyatnya kecelakaan itu hingga semua anggota DPR itu tewas. para petani itu mengatakan bahwa anggota DPR itu tewas semua dalam kejadian itu maka mereka berinisiatif menguburkannya. memang ketika pelaksanaan penguburan itu ada sebagian anggota DPR yang berteriak bahwa mereka belom mati jadi jangan dikubur. "tapi", kata seorang polisi pada komandan polisi, "mereka kan aggota DPR yang doyan bohong, maka kami tak gampang percaya dengan teriakan mereka itu, kami sudah sering jadi korban penipuan mereka"!

Cerita sinis diatas paling tidak menguatkan citra bahwa politik itu kotor dan semua orang yang terjun didalamnya akan menjadi kotor. tak dapat dipungkiri bahwa polikuslah yang menggiring dunia politik secara empirik mengusung citra yang tidak menyenangkan. alasannya sederhana, bahwa dunia politik adalah dunia merebut kekuasaan, kekuasaan telah menjadi sebuah ekstasi yang akan membuat hati girang. karenanya kekuasaan menjadi candu bagi elit politik. tak heran, untuk meraihnya, ‘jalan pintas dianggap pantas’ demi sebuah kepentingan untuk merebut kekuasaan.

sebenarnya apa yaang membuat orang begitu tertarik untuk merebut kekuasaan oleh karenanya terjun ke dunia politik? untuk hal ini mungin rumusan M-P-M adalah jalan sederhana untuk menjawabnya. Money dapat merebut Power kemudian power menjadi mesin untuk membuat More Money.

dalam konteks pilkada di tanah air, seorang yang ingin dicalonkan oleh sebuah partai politik paling tidak harus memiliki jumlah uang yang banyak untuk meminang sebuah partai politik agar dia dicalonkan menjadi calon kepala daerah atau wakilnya. jika saja uangnya kurang maka ia mencari suntikan financial dari sponsor seperti pengusaha yang akan ia gunakan sebagai mas kawin untuk melamar di sebuah partai politik. dealnya sudah jelas, jika ia terpilih maka proyek x akan diberikan pada pihak sponsor. panggung politik menjadi arena pelelangan ekonomi. bahkan, kini banyak anggota DPR yang sedang kejar setoran karena pihak sponsor menagih piutangnya yang digunakan ketika kampanye dahulu. janji dengan konstituen ketika kampenye dahulu menjadi hal yang mudah untuk dilupakan. itulah kiranya kenapa dalam sebuah realitas politik, elit politik dari satu partai dapat dengan mudah berkompromi dengan elit partai lain ketimbang dengan konstituennya karena logika politik dengan sangat jelas mengatakan bahwa dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi yang ada cuma kepentingan abadi.

apakah citra politik yang seperti ini akan berjalan terus hingga akhir jaman atau masih bisa dirubah?

pihak skeptis akan berpendapat demikian sedang ada sebagian pihak lain yakin citra tersebut bisa dirubah dengan pembentukan sistim baru yang memungkinkan konstituen menagih janji-janji kampanye politikus. selama ini, tak ada mekanisme penagihan janji dari konstituen kepada elit politik yang dipilihnya, yang ada adalah sebuah pengadilan bahwa publik tak akan memilihnya kembali. tapi, untuk kasus yang terakhir ini publik dapat dengan mudah terlena dengan money politik yang dimainkan elit. oleh karenanya sejalan dengan pembentukan sistim baru tersebut maka publik harus mendapatkan pendidikan politik yang memadai guna menghasilkan sebuah dunia politik yang jauh dari citra yang kotor karena publik memilihnya dengan rasional.

saat ini, gua sedang melanjutkan studi dijurusan komunikasi politik. pada awal kuliah gua menjadi semakin najis dengan yang namanya politik. tapi seorang dosen kemudian mengatakan bahwa partai poltik adalah kekuatan yang besar selain militer, kalau kita tidak acuh terhadap partai politik maka akan ada kekuatan anti demokrasi yang akan bermain digelanggang politik, seperti militer. pilihannya adalah membiarkan itu terjadi atau ikut andil dalam menyehatkan demokrasi di tanah air. atau pilihan terakhir…tak peduli mau demokratis atau engga ini bangsa yang penting hidup tenang, senang-senang, menertawakan realitas politik bangsa ini agar tidak stress, kemudian mati masuk surga. nampaknya yang terakhir ini lebih menarik….silahkan pilih…