Taman Menteng

May 7, 2007

Suatu senja, saya pun menjumpai taman menteng. memang pada saat peresmian taman ini, saya berjumpa dengan taman ini. tapi kali ini agak berbeda, saya berjumpa dengan taman ini bukan karena tugas, tapi justru meregangkan otot sehabis bertugas. Rasanya, LAIN BUNG!

Saya begitu menikmati pemandangan yang ditawarkan taman ini ketika senja hadir di langit Jakarta. mereka yang bermain futsal, mereka yang bermain basket, mereka yang bercanda tawa, mereka yang berfoto ria, dan mereka yang sekedar menunggu kemacetan

semuanya jadi satu, lintas umur, kelas sosial dan tentu saja jenis kelamin.

Tanpa malu-malu, saya harus angkat topi untuk, Sutiyoso, sang gubernur Jakarta, yang berani mengubah stadion milik persija ini jadi taman yang bagi saya tak hanya seksi tapi juga menentramkan.

di Taman ini, mereka bebas berolah raga, bebas tertawa-tawa dan tentu saja bebes bereksperesi dalam jimpratan kamera.

Taman menteng kemudian menjadi tempat dimana kebebasan ekspresi adalah hal yang bisa direnggut, tanpa mengeluarkan keringat setitik pun.

Sebagai sebuah wilayah publik, taman menteng bisa menjadi arena dimana ruang publik bisa diwacanakan. saya harap tidak berlebihan, ketika keniscayaan konsep habernasian soal ruang publik dilekatkan pada taman ini.

Taman ini bisa dijadikan lokasi publik berekpersi dengan melepaskan hegemoni modal, kelas dan jenis kelamin. Arena dimana ekspresi pembicaraan, eksperesi bahasa dan eksperesi tanda jauh dari kungkungan kekuasaan.

dari taman ini, bisa muncul berbagai komunitas seperti komunitas olag raga, komunitas sastra, komunitas seni, dan komunitas pencinta taman.

pada sebuah komunitas, proses deliberasi bisa saja lahir. karena keluarga sebagai agen sosial tak lagi begitu brilyan mempengaruhi sikap dan prilaku individu. komunitas kini jadi salah satu faktor yang memegang kendali individu untuk menentukan sikap.

deliberasi dalam arti luas memberikan alasan yang rasional kenapa individu bertindak dan beraksi. bertindak rasional dalam pilihannya menyenangi sebuah hobi, mengkonsumsi budaya pop, sampai alasan yang rasional ketika harus menjatuhkan pilihan politik pada sebuah pemilu.

ketika taman menteng memberikan kesempatan lahirnya komunitas-komunitas baru di Jakarta, maka pada saat ini deliberasi menjadi sebuah keniscayaan.

Ternyata, tak hanya pemandangan yang begitu seksi yang ditawarkan taman menteng ketika senja ada di langit Jakarta. Tapi sebuah masa depan yang cerah ketika kebebasan berekspresi semakin mantap dengan adanya taman ini.

Taman menteng melahirkan kembali sebuah harapan.

semoga tidak berlebihan….