Persekongkolan Dua Musuh

August 20, 2007

Rustam keringatan. Ia duduk di atas kursi goyang. Tangan lelaki tua itu memegang secarik kertas undangan. Sesekali ia tegaskan kembali guratan-guratan tinta dalam kertas itu. Kursi malas tetap bergoyang. Tak mampu bertahan terlalu lama, ia pergi ke arah telepon. Lalu ia  hubungi Gungun, teman di kesatuannya dahulu ketika jaman sedang dicekoki peperangan.
Tanpa panjang lebar, Rustam langsung ke arah topik pembicaraan tatkala telpon telah tersambung ke tangan Gungun.
“Kau sudah terima surat undangan itu?” tanya Rustam
“Tadi pagi. Kau akan datang? Nampaknya komandan baru gede itu mengharapkan kita untuk datang.”
“Ini bukan masalah datang atau tidak. Kompeni-kompeni keparat itu tak tahu malu untuk datang lagi ke sini. Lagian buat apa kita bikin pesta penyambutan segala. Harusnya kita dor mereka. Meskipun acaranya ramah tamah antar pejuang dahulu, tapi kita harus lihat dari sisi lain. Jangan-jangan ada apa-apanya. Jangan-jangan mereka hanya ingin menertawakan kita yang meskipun telah merdeka tapi masih kere. Kau musti ingat Gun, mereka yang buat Burhan mati”
“Ya, mungkin memang ada apa-apanya. Tapi kompeni-kompeni itu katanya kan Cuma ingin berwisata ke sini. Katanya, mereka berinisiatif juga ingin beramah tamah dengan kita-kita sebagai eks musuhnya dahulu. Kalau memang Cuma ingin menertawakan keadaan kita, kita usir saja mereka.”
“Usir?
“Ya, Usir”
“Bisa?”
“Ya bisa dong. Kita kan bangsa merdeka. Dahulu sebelum merdeka saja kita bisa pukul mereka. Kenapa sekarang tidak bisa. Bagaimana kau datang?”
“Kalau begitu boleh saja. Tapi ingat, aku tetap tak menghargai bajingan-bajingan itu. Okeh, sampai ketemu hari Selasa. Kau jemput aku ya, kita kesana sama-sama.”
Pada hari selasa, Rustam mengenakan topi sekaligus seragam korpsnya pada jaman perjuangan dahulu sebagaimana diamanatkan dalam surat undangan. Beberapa saat kemudian Gungun datang menjemput. Keduanya lalu bertemu di ruang tamu.
“Siapa dapat menghalangi dua lelaki tangguh ini?” tanya Gungun sambil membentangkan kedua tanganya.
“Tidak siapapun,” Rustam menjawab pertanyaan Gungun yang biasa diutarakan kalau mereka akan berangkat ke medan tempur dahulu. Setelah berpelukan keduanya lalu sepakat untuk langsung ke tempat pertemuan itu.
Dalam ruangan pertemuan itu (atau acara ramah tamah) tampak bule-bule yang sudah keriput dan pribumi yang telah uzur pula. Jika saja ada mereka yang masih terlihat muda, maka itu adalah panitia atau generasi masa kini dari kesatuan militer.
Tampak orang yang kini memanggul pangkat tinggi di pundaknya sedang berpidato yang diselingi dengan terjemahan dari seorang penerjemah. Agar terkesan lebih akrab, panitia sengaja membaurkan tempat duduk antara eks pejuang bagi bangsa masing-masing itu. Rustam dan Gungun duduk diantara dua eks kompeni. Gungun tampak asik beramah tamah dengan bule di sebelah kanannya. Gungun memang sangat mahir bahasa bule-bule itu. Sedang Rustam, demi alasan nasionalisme yang tinggi ia tak mau belajar bahasa penjajah. Sebab itu, entah karena tidak bisa bahasa bule, atau gengsi atau karena tak ingin bicara,  ia tidak memberikan perhatian pada bule disampingnya. Bahkan Rustam pasang tampang laksana suasana masih perang. Matanya memang sedang memerhatikan orang sedang berpidato, tapi kuping dan pikirannya tampak menyeberang ke jalur lain.   Rustam mengingatkan Gungun untuk tak terlalu mengasih hati pada kompeni di sampingnya. Apalagi, menurut Rustam, orang yang diajak bicara oleh Gungun tampangnya sangat meremehkan mereka berdua sebagai bagian dari generasi yang telah merdeka.
Selesai pidato dari pihak penyelenggara, maka selanjutnya adalah pidato dari eks pejuang tanah air. Kebetulan yang mendapatkan kehormatan itu adalah Sutarjo, bekas ketua regu Rustam dan Gungun. Rustam tahu betul bagaiamana track record Sutarjo. Dalam pikiran Rustam, Sutarjo terlalu kompromis, tidak punya prinsip dan sedikit penakut ketika perang dahulu. Tak heran ketika nama Sutarjo dipanggil oleh pembawa acara, Rustam mengeluh hingga Gungun meledeknya dengan tawa kecil.
Sepanjang Sutarjo berpidato, Rustam selalu berdecak kecewa karena pidatonya dinilai memble untuk ukuran seorang pejuang.
Selanjutnya adalah pidato dari perwakilan tamu. Rustam segera menginstruksikan Gungun untuk menerjemahkan pidato tersebut khusus untuknya.
“Bukankah di depan sudah ada penerjemah? Kau tak bisa mendengarnya?”
“Aku tidak percaya dia, aku lebih percaya kau. Terjemahkan secara rinci. Ayo cepat siap.”
Maka mulailah Gungun menerjemahkan pidato perwakilan tamu, special untuk Rustam.

Selamat siang, Atas nama ratu, kami semua ke Indonesia…

“Dia masih bawa-bawa nama ratunya ke sini?” potong Rustam “kenapa tidak dia bawa sekalian mahkotanya ke sini, biar sekalian aku kencingi sekarang juga. Hayo, lanjutkan!” sambungnya sambil memukul kepalan tangannya di atas pahanya.

Semuanya memang tampak berbeda sekarang dibandingkan ketika kita perang dulu….

“Berbeda kepalamu,  kau masih sama gemblung! Teruskan….hayo dia bilang apa lagi?”

Ini semua atas inisiatif kita semua dari negeri kincir angin  untuk datang ke sini dalam rangka akrab-akraban sekaligus melihat peninggalan-peninggalan bersejerah yang pernah kami kami tinggalkan di sini. Kami sangat sedih karena beberapa dari peninggalan itu tak terawat dengan baik…

“Kau dengar Gun, Dia mulai menghina”

Dengan demikian, Kami sangat ingin agar Indonesia memeliharahanya dengan baik situs-situs peninggalan itu, agar kiranya…

“Setan!”
“Husss…kau bicara terlalu keras.”
“Husss bagaimana, Kita sudah merdeka masih dia suruh-suruh juga.!

Kita akan memberikan bantuan dalam rangka memelihara dan melestarikan situs-situs peninggalan kami…

“Kau ngerti Gun, dia itu sebenarnya bilang kita ini miskin. Tai macan!
Demikian kiranya, dengan acara ini kita bisa menjalin kerja sama sekaligus menghapus luka dan dendam yang pernah tertoreh pada diri kita masing-masing. Terima kasih.

Tamu yang berpidato itu kembali ke tempat duduknya. Rustam berdiri seraya menarik tangan Gungun untuk berdiri juga. Ia meminta Gungun untuk menerjemahkan secara lengkap dan detail apa yang akan dia bicarakan untuk tamu-tamu bule itu.
Kemudian Rustam memulai berkata :

“Benda-benda yang telah kalian tinggalkan di Indonesia memang sangat berharga buat kami. Itu semua akan kami lestarikan untuk kami katakan pada anak cucu kami bahwa kami pernah dijajah tapi dengan semangat yang tinggi kami mampu mempersilahkan penjajah itu untuk pergi dari tanah air kami. Oleh karenanya penting bagi kami untuk selalu menjaga situs sejarah itu. Masalah bantuan itu, kami sangat menghargainya,  tapi biarkan kami sendiri yang mengurusnya untuk bisa membuktikan bahwa kami mampu mengurus dirinya sendiri sebagai bangsa yang merdeka.”

Kemudian bule yang tadi berpidato maju kembali dan mulai berkata-kata dan Gungun sibuk menerjemahkan

Kami sangat mengerti apa yang Anda inginkan. Kami juga ingin bangunan-bangunan bersejarah itu tetap kokoh agar jika anak cucu kami bermain-main ke Indonesia mereka akan melihat bahwa kakek-kakek mereka pernah menguasai tempat ini hingga dengan leluasa membangun apa saja yang bisa dibangun. Oleh karenannya ijinkan kami untuk memberikan bantuan dalam rangka pelestarian situs-situ sejarah tersebut. Terima kasih.

Tamu bule itu duduk dan Rustam kembali berpidato. Suasana makin panas. Rustam dan Bule yang berpidato itu berbalas pantun dan Gungun bingung menerjemahkan. Kata-kata dan kalimat yang keluar sudah terasa pedas. Panitia turun tangan. Acara ramah-tamah terasa hambar dan penuh curiga. Rustam masih belum puas dengan apa yang telah terjadi dan bule itu setali tiga uang. Keduanya melanjutkan untuk kembali berbalas pantun.
Tak disangka setelah bergumul dengan argumen masih-masing, Rustam dengan eks pejuang tanah air dan Bule yang berpidato dengan rombongan tamu yang lain keluar gedung dengan tangan dikepal. Mereka bersatu menuju tempat yang disebut-sebut sebagai situs sejarah. Sampai tengah jalan mereka putar arah karena baru sadar bahwa tempat acara tadi masuk kategori situs sejarah. Panitia semakin bingung ketika para eks pejuang itu terlihat balik ke arahnya dengan muka perang. Dengan semangat perjuangan mereka berniat merubuhkan tempat itu dan situs-situs sejarah yang lain karena diyakini sebagai simbol dari kekejaman sejarah dan malapetaka kemanusian.
Dalam bangunan itu mereka mengamuk hingga lupa diri dan lupa segalanya. Mereka rasakan seakan-akan bangunan itu balik memarahi mereka dengan amukannya sendiri. Kaca pecah, atap runtuh dan dinding roboh. Mereka terjebak di dalamnya. Setelah kasak kusuk, mereka menemukan lorong jalan di bawah bangunan. Dengan komando Rustam dan Bule yang berpidato, mereka menelusuri lorong jalan tersebut. Apa daya mereka-mereka itu sudah tua dan akhirnya tersesat. Dalam kesesatan itu,  terdengar suara tawa yang menggema sangat kencang dan jernih. HAHAHA…!
“Siapa itu?” Rustam berteriak.
“Mau tahu saja?” kata suara itu
“Dimana kita?”
“Di akhirat, you know.”
“Kurang ajar kamu. Jangan main-main dengan kami.”
“HAHAHA…Sudah koit masih keras kepala. Dasar tentara!”   

SalmanHasky

dari Terminal Senja

Bendera 17 Agustus

August 3, 2007

Dengan semangat kemerdekaan, Slamet, hansip warga kampung naga, berjalan menuju rumah Pak Hartono. Pak Hartono sendiri dari tadi sudah menunggunya dengan deg-degan sambil berusaha mengintip dari pagar rumahnya kedatangan Slamet. Ketika Slamet muncul, Pak Hartono langsung menyeretnya masuk ke ruang tamu.
“Mana? Dapatkan?”, ujar Pak Hartono langsung membuka pembicaraan.
“Dapat. Tapi sabar sedikit Pak, saya tarik napas dulu. Hampir ketahuan saya tadi subuh sama pembantunya. Tapi, karena saya lincah maka bendera ini berhasil saya sita.”
Slamet menyerahkan benda yang dimaksud Pak Hartono. Tuan rumah membentangkan bendera itu di lantai. Pak Hartono berdecak melihat bendera itu. Ia mengangkat alis pada Slamet sambil menunjuk bendera itu. Slamet mengangguk.
“Tak bisa tidak. Ini harus dihentikan. Kali ini harus berhasil. Si Toha makin kurang ajar saja. Benderaa ini kita ambil sebagai barang bukti ke Pak RT. Tapi sebelum ke Pak RT, ada baiknya kita catat dulu kesalahan-kesalahan bendera ini,” kata Pak Hartono sambil kemudian berteriak pada anaknya untuk dibawakan pulpen dan secarik kertas.
Pak Hartono menilik dengan seksama bendera itu kemudian menyebutkan satu persatu kesalahannya. Slamet mencatat dengan teguh. Tapi keseriusan mereka terganggu oleh istri Pak Hartono yang sedang mengepel lantai. Keduanya tergusur oleh gerutu istri pak Hartono dan segera transmigrasi ke ruang belakang rumah. Pak Hartono berkata pada Slamet bahwa di ruang belakang cahayanya lebih bagus hingga mereka dapat dengan sangat teliti mencatat apa saja yang musti dicatat dari bendera itu.
Ketika yakin semuanya telah ditulis Slamet, Pak Hartono mengajaknya untuk langsung ke rumah Pak RT. Tapi sebelumnya ia mengganti kaus kutang dan sarung yang sedang bergelayut di badannya dengan pakaian yang agak pantas untuk menghadap Pak RT.
Di ruang tamu rumah Pak RT, Pak Hartono membentangkan bendera itu ke meja tamu.
“Tuh Pak RT, lihat!” ucap Pak Hartono.
“Ada apa dengan bendera ini?”
“Perhatikan dong pelan-pelan, masa Pak RT ga bisa lihat. Ayo coba tegesin”
“Ini bendera merah putih kan? Terus kenapa?”
“Ini bukan merah putih, tapi coklat muda dan kuning. Ini bukan Bendera Indonesia. Nodanya di sana-sini. Tuh lihat ada noda. Noda. Noda! Mana ,Met, kertas yang tadi. Kasih ke sini. Nih saya bacakan, Pak RT. Warna merah jadi coklat muda. Warna putih jadi kuning. Ja…Ja…,  hah tulisan kaya cakar ayam. Pak RT bisa lihat sendiri kan. Lihat jahitannya saja sudah kendor. Kaya kulit nenek-nenek saja.”
“Lho, Pak Hartono, ini kan cuma butek dan luntur saja warnanya. Kalau dicuci juga agak bersihan. Mungkin kalo beli yang baru tidak mampu barang kali. Memangnya ini bendera punya siapa?”, kata Pak RT mencoba bijaksana.
“Ga mungkin tidak sanggup beli, Pak RT, wong rumah kontrakannya saja banyak. Tanggungan sudah tidak ada. Ini sudah penghinaan, Pak RT. Masa bendera macam gini yang dipasang di depan rumah. Bagaimana kalau para pejuang kemerdekaan dahulu melihat bendera ini yang dipajang di depan rumah. Ini sudah pengkhianatan pada sangsaka merah putih. Ini subversif, Pak RT!
“Memangnya bendera ini punya siapa sih, Pak Hartono?”
“Siapa lagi kalau bukan si Toha tua keladi itu, Pak RT.”
Mengetahui siapa pemilik bendera itu, Pak RT tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala. Kalau sudah menjelang tujuh belas Agustusan,  memang Pak Toha sering dijadikan biang keladi permasalahan wilayah kampung naga oleh beberapa warga. Semuanya bermula ketika dua puluh tahun yang lalu Pak Toha terciduk aparat keamanan karena dituduh bersekongkol dengan masyarakat yang ingin menyerang sebuah kantor polisi karena menahan rekan-rekan mereka. Pihak kepolisisan waktu itu menjawab tuntutan pembebasan rekan mereka dengan berondongan peluru panas. Banyak yang mati dan tertangkap. Pak Toha masuk dalam salah satu yang tertangkap itu.
Pengadilan memvonis Pak Toha dengan hukuman lima belas tahun penjara karena dituduh makar dan mengancam stabilitas negara. Kontan saja perekonomian keluarga Pak Toha mengalami krisisnya. Tapi untungnya ketiga anak Pak Toha sekarang sudah menjadi orang karena mampu mengunyah bangku pendidikan sampai tingkat yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia, berkat bantuan sebuah yayasan. Kini ketiga anak Pak Toha sudah berkeluarga dan menjalani kehidupannya masing-masing. Istri Pak Toha menemui ajalnya ketika umur hukuman Pak Toha di bui masih tujuh tahun.  Setelah bebas hukuman, Pak Toha tinggal seorang diri dan sesekali dikunjungi oleh anak-anaknya.
Suatu hari rumah Pak Toha kena rencana perluasan sebuah pelabuhan. Dengan modal uang gusuran, Pak Toha mampu membeli sebuah rumah dengan beberapa petak kontrakan di daerah yang cukup jauh dengan tempat asalnya. Kegiatan Pak Toha kini hanya mengajar ngaji di sebuah mushola di daerahnya.
Gonjang-ganjing  tentang siapa Pah Toha sudah terdengar ketika Pak Toha baru saja tinggal di daerah kampung naga. Suatu waktu warga kecewa dengan rencana bantuan pemerintah untuk mengaspal jalan gagal. Warga mencoba mencari titik lemah emohnya pemerintah memberi bantuan tersebut. Entah siapa yang mulai, warga mulai menuduh Pak Toha sebagai biang keladinya. Tapi kala itu warga hanya diam.
Tahun kedua, RT setempat tidak berhasil mempertahankan juara kebersihan tingkat kecamatan untuk kesepuluh kalinya. Ibu-ibu PKK tak jadi menggondol piala nasi tumpeng tingkat RW untuk kelima belas kalinya.Entah siapa lagi yang memulai, kambing hitam diarahkan pada hidung Pak Toha. Tahun Ketiga kampung naga gagal menjadi wakil kelurahan untuk lomba membaca Al-Quran tingkat kecamatan. Usut-demi usut, beberapa warga menyangka panitia mencoret mereka dari daftar peserta karena yang akan membacakan Al- Quran adalah hasil didikan Pak Toha di mushola. Tapi ekspresi kecewa warga kampung naga hanya sebatas bisik-bisik.
Klimaksnya ketika terjadi pemboman di tanah air. Pak Toha dicurigai oleh warga ikut terlibat. Mereka pun menarik anak-anak mereka yang belajar ngaji dengan Pak Toha karena takut diajari yang bukan-bukan tentang panji-panji agama. Kalau sudah melihat itu, Pak RT selalu geleng-geleng kepala.
“Jadi harus diapakan bendera ini, Pak Hartono?” tanya Pak RT.
“Lho, bukan benderanya. Bendera kan tidak salah apa-apa. Orangnya itu yang harus diapa-apakan. Bendera ini bukti bahwa si Toha itu anti Indonesia, tidak pancasilais. Pak RT harus ambil tindakan tegas dong, jangan cuma senyam-senyum. Bapak kan pimpinan kita-kita. Apa mau, Pak RT, kampung naga ini dituduh yang bukan-bukan sama pemerintah? Bisa bangkrut kita, Pak RT, tidak bisa juara apa-apa lagi.”
Pak RT menjadi bingung dengan tuntutan Pak Hartono yang semakin nyerocos ke sana kemari. Ketika pembicaraan sedang hangat, mereka mendengar suara sandal berjalan. Ternyata itu adalah Pak Toha. Melihat Pak Toha datang, Pak Hartono spontan menghentikan pidatonya dan menyuruh Slamet untuk menyembunyikan bendera yang sedang disita itu. Pak RT segera menyuruh Pak Toha untuk masuk ke ruang tamu. Setelah basa basi sedikit Pak Toha menyatakan niatnya datang ke rumah Pak RT.
“Begini, Pak RT, tadi pagi bendera saya hilang, padahal tadi malam masih ada. Tapi tak apalah, lagian benderanya sudah jelek. Jadi begini Pak RT, kalau Pak RT hari ini ke tokonya, saya ingin nitip dibelikan bendera yang masih baru. Kalau bisa yang warnanya masih ngejreng.”
“Lho, kenapa musti jauh-jauh Pak Toha, Pak Hartono kan jualan bendera. Iyakan Pak Hartono?”
Pak Hartono mengangguk dan tersenyum dengan terpaksa. Setelah itu ia menyuruh Slamet mengambil satu helai bendera dari istrinya di rumah. Ketiganya lalu berbincang-bincang. Pak RT menanyakan kondisi kesehatan Pak Toha. Pak Hartono menanyakan pada Pak Toha apa yang dilakukan orang-orang dalam penjara kalau memperingati kemerdekaan. Pak RT bertanya masalah anak-anak pada Pak Toha. Pak Hartono menanyakan pada Pak Toha makanan di penjara. Slamet datang membawa bendera yang masih baru.
Setelah membayar pada Pak Hartono, Pak Toha mohon pamit. Setelah itu, Pak RT berujar pada Pak Hartono bahwa segala masalah dengan Pak Toha sudah selesai. Pak RT mohon dengan sangat kepada Pak Hartono untuk tidak menggunjing tentang Pak Toha lagi karena masalahnya ia anggap telah mencapai garis finish. Pak RT juga menegur Slamet kalau ingin bertindak sebaiknya dibicarakan dulu dengan dirinya. Pak Hartono dan Slamet minta undur diri juga. Kini pintu rumah Pak RT telah tertutup.
Baru saja Pak RT ingin mandi pagi, isterinya bilang kalau Pak Hartono dan Slamet telah menunggu di ruang tamu. Pak RT segera mengampiri mereka. Melihat Pak RT muncul Pak Hartono langsung berkata
“Kita harus segera lapor polisi, Pak RT.”
“Ada apa lagi, Pak Hartono?”
“Apalagi kalau bukan si Toha, duitnya yang dikasih buat bayar bendera tadi sudah butek. Pasti duit palsu!!!”

SalmanHasky,

dari Terminal Senja