Bendera 17 Agustus
August 3, 2007
Dengan semangat kemerdekaan, Slamet, hansip warga kampung naga, berjalan menuju rumah Pak Hartono. Pak Hartono sendiri dari tadi sudah menunggunya dengan deg-degan sambil berusaha mengintip dari pagar rumahnya kedatangan Slamet. Ketika Slamet muncul, Pak Hartono langsung menyeretnya masuk ke ruang tamu.
“Mana? Dapatkan?”, ujar Pak Hartono langsung membuka pembicaraan.
“Dapat. Tapi sabar sedikit Pak, saya tarik napas dulu. Hampir ketahuan saya tadi subuh sama pembantunya. Tapi, karena saya lincah maka bendera ini berhasil saya sita.”
Slamet menyerahkan benda yang dimaksud Pak Hartono. Tuan rumah membentangkan bendera itu di lantai. Pak Hartono berdecak melihat bendera itu. Ia mengangkat alis pada Slamet sambil menunjuk bendera itu. Slamet mengangguk.
“Tak bisa tidak. Ini harus dihentikan. Kali ini harus berhasil. Si Toha makin kurang ajar saja. Benderaa ini kita ambil sebagai barang bukti ke Pak RT. Tapi sebelum ke Pak RT, ada baiknya kita catat dulu kesalahan-kesalahan bendera ini,” kata Pak Hartono sambil kemudian berteriak pada anaknya untuk dibawakan pulpen dan secarik kertas.
Pak Hartono menilik dengan seksama bendera itu kemudian menyebutkan satu persatu kesalahannya. Slamet mencatat dengan teguh. Tapi keseriusan mereka terganggu oleh istri Pak Hartono yang sedang mengepel lantai. Keduanya tergusur oleh gerutu istri pak Hartono dan segera transmigrasi ke ruang belakang rumah. Pak Hartono berkata pada Slamet bahwa di ruang belakang cahayanya lebih bagus hingga mereka dapat dengan sangat teliti mencatat apa saja yang musti dicatat dari bendera itu.
Ketika yakin semuanya telah ditulis Slamet, Pak Hartono mengajaknya untuk langsung ke rumah Pak RT. Tapi sebelumnya ia mengganti kaus kutang dan sarung yang sedang bergelayut di badannya dengan pakaian yang agak pantas untuk menghadap Pak RT.
Di ruang tamu rumah Pak RT, Pak Hartono membentangkan bendera itu ke meja tamu.
“Tuh Pak RT, lihat!” ucap Pak Hartono.
“Ada apa dengan bendera ini?”
“Perhatikan dong pelan-pelan, masa Pak RT ga bisa lihat. Ayo coba tegesin”
“Ini bendera merah putih kan? Terus kenapa?”
“Ini bukan merah putih, tapi coklat muda dan kuning. Ini bukan Bendera Indonesia. Nodanya di sana-sini. Tuh lihat ada noda. Noda. Noda! Mana ,Met, kertas yang tadi. Kasih ke sini. Nih saya bacakan, Pak RT. Warna merah jadi coklat muda. Warna putih jadi kuning. Ja…Ja…, hah tulisan kaya cakar ayam. Pak RT bisa lihat sendiri kan. Lihat jahitannya saja sudah kendor. Kaya kulit nenek-nenek saja.”
“Lho, Pak Hartono, ini kan cuma butek dan luntur saja warnanya. Kalau dicuci juga agak bersihan. Mungkin kalo beli yang baru tidak mampu barang kali. Memangnya ini bendera punya siapa?”, kata Pak RT mencoba bijaksana.
“Ga mungkin tidak sanggup beli, Pak RT, wong rumah kontrakannya saja banyak. Tanggungan sudah tidak ada. Ini sudah penghinaan, Pak RT. Masa bendera macam gini yang dipasang di depan rumah. Bagaimana kalau para pejuang kemerdekaan dahulu melihat bendera ini yang dipajang di depan rumah. Ini sudah pengkhianatan pada sangsaka merah putih. Ini subversif, Pak RT!
“Memangnya bendera ini punya siapa sih, Pak Hartono?”
“Siapa lagi kalau bukan si Toha tua keladi itu, Pak RT.”
Mengetahui siapa pemilik bendera itu, Pak RT tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala. Kalau sudah menjelang tujuh belas Agustusan, memang Pak Toha sering dijadikan biang keladi permasalahan wilayah kampung naga oleh beberapa warga. Semuanya bermula ketika dua puluh tahun yang lalu Pak Toha terciduk aparat keamanan karena dituduh bersekongkol dengan masyarakat yang ingin menyerang sebuah kantor polisi karena menahan rekan-rekan mereka. Pihak kepolisisan waktu itu menjawab tuntutan pembebasan rekan mereka dengan berondongan peluru panas. Banyak yang mati dan tertangkap. Pak Toha masuk dalam salah satu yang tertangkap itu.
Pengadilan memvonis Pak Toha dengan hukuman lima belas tahun penjara karena dituduh makar dan mengancam stabilitas negara. Kontan saja perekonomian keluarga Pak Toha mengalami krisisnya. Tapi untungnya ketiga anak Pak Toha sekarang sudah menjadi orang karena mampu mengunyah bangku pendidikan sampai tingkat yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia, berkat bantuan sebuah yayasan. Kini ketiga anak Pak Toha sudah berkeluarga dan menjalani kehidupannya masing-masing. Istri Pak Toha menemui ajalnya ketika umur hukuman Pak Toha di bui masih tujuh tahun. Setelah bebas hukuman, Pak Toha tinggal seorang diri dan sesekali dikunjungi oleh anak-anaknya.
Suatu hari rumah Pak Toha kena rencana perluasan sebuah pelabuhan. Dengan modal uang gusuran, Pak Toha mampu membeli sebuah rumah dengan beberapa petak kontrakan di daerah yang cukup jauh dengan tempat asalnya. Kegiatan Pak Toha kini hanya mengajar ngaji di sebuah mushola di daerahnya.
Gonjang-ganjing tentang siapa Pah Toha sudah terdengar ketika Pak Toha baru saja tinggal di daerah kampung naga. Suatu waktu warga kecewa dengan rencana bantuan pemerintah untuk mengaspal jalan gagal. Warga mencoba mencari titik lemah emohnya pemerintah memberi bantuan tersebut. Entah siapa yang mulai, warga mulai menuduh Pak Toha sebagai biang keladinya. Tapi kala itu warga hanya diam.
Tahun kedua, RT setempat tidak berhasil mempertahankan juara kebersihan tingkat kecamatan untuk kesepuluh kalinya. Ibu-ibu PKK tak jadi menggondol piala nasi tumpeng tingkat RW untuk kelima belas kalinya.Entah siapa lagi yang memulai, kambing hitam diarahkan pada hidung Pak Toha. Tahun Ketiga kampung naga gagal menjadi wakil kelurahan untuk lomba membaca Al-Quran tingkat kecamatan. Usut-demi usut, beberapa warga menyangka panitia mencoret mereka dari daftar peserta karena yang akan membacakan Al- Quran adalah hasil didikan Pak Toha di mushola. Tapi ekspresi kecewa warga kampung naga hanya sebatas bisik-bisik.
Klimaksnya ketika terjadi pemboman di tanah air. Pak Toha dicurigai oleh warga ikut terlibat. Mereka pun menarik anak-anak mereka yang belajar ngaji dengan Pak Toha karena takut diajari yang bukan-bukan tentang panji-panji agama. Kalau sudah melihat itu, Pak RT selalu geleng-geleng kepala.
“Jadi harus diapakan bendera ini, Pak Hartono?” tanya Pak RT.
“Lho, bukan benderanya. Bendera kan tidak salah apa-apa. Orangnya itu yang harus diapa-apakan. Bendera ini bukti bahwa si Toha itu anti Indonesia, tidak pancasilais. Pak RT harus ambil tindakan tegas dong, jangan cuma senyam-senyum. Bapak kan pimpinan kita-kita. Apa mau, Pak RT, kampung naga ini dituduh yang bukan-bukan sama pemerintah? Bisa bangkrut kita, Pak RT, tidak bisa juara apa-apa lagi.”
Pak RT menjadi bingung dengan tuntutan Pak Hartono yang semakin nyerocos ke sana kemari. Ketika pembicaraan sedang hangat, mereka mendengar suara sandal berjalan. Ternyata itu adalah Pak Toha. Melihat Pak Toha datang, Pak Hartono spontan menghentikan pidatonya dan menyuruh Slamet untuk menyembunyikan bendera yang sedang disita itu. Pak RT segera menyuruh Pak Toha untuk masuk ke ruang tamu. Setelah basa basi sedikit Pak Toha menyatakan niatnya datang ke rumah Pak RT.
“Begini, Pak RT, tadi pagi bendera saya hilang, padahal tadi malam masih ada. Tapi tak apalah, lagian benderanya sudah jelek. Jadi begini Pak RT, kalau Pak RT hari ini ke tokonya, saya ingin nitip dibelikan bendera yang masih baru. Kalau bisa yang warnanya masih ngejreng.”
“Lho, kenapa musti jauh-jauh Pak Toha, Pak Hartono kan jualan bendera. Iyakan Pak Hartono?”
Pak Hartono mengangguk dan tersenyum dengan terpaksa. Setelah itu ia menyuruh Slamet mengambil satu helai bendera dari istrinya di rumah. Ketiganya lalu berbincang-bincang. Pak RT menanyakan kondisi kesehatan Pak Toha. Pak Hartono menanyakan pada Pak Toha apa yang dilakukan orang-orang dalam penjara kalau memperingati kemerdekaan. Pak RT bertanya masalah anak-anak pada Pak Toha. Pak Hartono menanyakan pada Pak Toha makanan di penjara. Slamet datang membawa bendera yang masih baru.
Setelah membayar pada Pak Hartono, Pak Toha mohon pamit. Setelah itu, Pak RT berujar pada Pak Hartono bahwa segala masalah dengan Pak Toha sudah selesai. Pak RT mohon dengan sangat kepada Pak Hartono untuk tidak menggunjing tentang Pak Toha lagi karena masalahnya ia anggap telah mencapai garis finish. Pak RT juga menegur Slamet kalau ingin bertindak sebaiknya dibicarakan dulu dengan dirinya. Pak Hartono dan Slamet minta undur diri juga. Kini pintu rumah Pak RT telah tertutup.
Baru saja Pak RT ingin mandi pagi, isterinya bilang kalau Pak Hartono dan Slamet telah menunggu di ruang tamu. Pak RT segera mengampiri mereka. Melihat Pak RT muncul Pak Hartono langsung berkata
“Kita harus segera lapor polisi, Pak RT.”
“Ada apa lagi, Pak Hartono?”
“Apalagi kalau bukan si Toha, duitnya yang dikasih buat bayar bendera tadi sudah butek. Pasti duit palsu!!!”
SalmanHasky,
dari Terminal Senja
Leave a Reply