Jimmy Page dan Selera

August 20, 2008

Tadi malam yang bertemu dengan
teman lama. Kami pun bercakap-cakap soal berbagai hal termasuk musik, hal yang
pernah kami geluti bersama beberapa tahun yang lalu. Teman saya ini kemudian
menginformasikan kalau beberapa hari lalu sebuah lembaga merilis daftar gitaris
terbaik se-dunia. Nama Jimmy Page menurut informasi teman saya itu, berada di
urutan pertama gitaris terbaik dunia.

 

Entah kenapa, pembicaraan kami
yang tadinya penuh tawa akhirnya sedikit meninggi. Saya pun menyerang daftar
gitaris terbaik itu. Entah kenapa, saya tidak setuju kalau semua gitaris dunia
diurut-urut seperti itu. Bagi saya, permainan gitar adalah masalah tehnik.
Seorang gitaris punya tehniknya sendiri ketika bersentuhan dengan gitarnya.
Masalah tehnik yang dipakai adalah masalah pilihan. Oleh karena itu, tidak
mudah untuk mengatakan tehnik gitaris yang satu lebih baik dari tehnik gitaris
yang lain.

 

Sayangnya, teman saya itu tidak
tahu atas dasar apa Jimmy Page ditempatkan menjadi gitaris nomor satu pada
tangga daftar gitaris terbaik dunia.

 

Kita tidak bisa dengan mudah
mengatakan Nuno Battencort-nya Extreme lebih baik dari Paul Gilbert-nya Mr.
Big. Mereka yang menyukai Extreme pasti akan menempatkan Nuno sebagai yang
terbaik jika Nuno dan Gilbert diperbandingkan. Begitu pun sebaliknya.

 

Ya, saya tidak setuju dengan
daftar gitaris terbaik dunia itu karena memang saya tidak menyukai Led
Zeppelin, grup musik yang membesarkan Jimmy Page.

 

Pada permainan catur, kita sangat
mudah mendefinisikan siapa yang terbaik dan siapa yang paling dungu. Kita hanya
bikin kompetisi tingkat dunia permainan catur dan pemenangnya adalah yang
terbaik sejagat. Karena sebuah permainan catur adalah pertandingan yang hasil
akhirnya adalah Menang dan Kalah.

 

Gitar adalah sebuah karya seni,
karenanya ia sangat berkaitan dengan masalah selera.

Selera adalah sebuah kontruksi
budaya. Masyarakat di pesisir pantai

Cirebon

akan lebih menyukai dangdut ketimbang lagu Klasik yang sering didengungkan
warga Eropa atau musik techno yang menjadi bagian dari para anak muda ibu

kota

yang sering dugem.
Sebabnya adalah seberapa sering interaksi yang terjalin antara seseorang dan
jenis  musik tertentu pada masa tertentu.

 

Beberapa warga pesisir

cirebon

mungkin akan
mencintai jazz kalau kemudian mereka dan jazz lebih sering menyapa setiap
harinya.

 

Saya tidak percaya jika dikatakan
musik adalah bahasa yang universal,, setidaknya pada tataran jenis. Bahasa
dangdut dan jazz adalah bahasa yang berbeda. Makanya, budaya selalu melahirkan
sebuah identitas. Pada kajian budaya populer, masalah identitas ini kemudian
menjadi hal penting, karena identitas setali tiga uang dengan yang namanya
citra.

 

Kalau sudah ngomongin citra maka
selera menjadi bagian yang bisa diatur. Citra berkaitan dengan aktualisasi
diri. Warga pesisir pantai

Cirebon

tentu akan
menyeimbangkan seleranya ketika dirinya berinteraksi dengan anak-anak

Jakarta

, ketika ia
menjadi bagian dari mereka. Ini agar identitasnya terwakili karena sudah
menyeimbangkan seleranya dengan kelompok barunya itu. Seleranya pun telah
berubah, dari dangdut mungkin ke lagu-lagu yang lebih techno. Dan ini sah-sah
saja, karena lagi-lagi ini semuanya tergantung pada masalah selera yang mucul
akibat kosntruksi budaya.

 

Ia, misalnya, akan memilih Tiesto
sebagai musisi favoritnya dan sudah melupakan Meggi Z yang telah lama memikat
hatinya.

 

Filsafat humanis universal sudah
mati. Sudah tidak ada yang berhak menyatakan selera yang satu lebih baik dari
yang lainnya. Setiap orang berhak untuk menentukan seleranya sendiri, karenanya
itu adalah pilihannya.

 

Harusnya, sebuah penjurian akan
karya seni sudah tidak bisa dipakai lagi. Karena bisa jadi perbedaan selera
para juri menentukan perbendaan hasil siapa yang harus menang dan harus kalah.
Itualah mengapa saya lebih tertarik pada penentuan pemenang kontes menyanyi
seperti Indonesian Idol atau Afi diserahkan pada pemirsanya karena baik Anang
atau Titi Dj tidak berhak menentukan siapa yang harus menang atau kalau. Siapa
Elo? Karena selera mereka berdua tidak lebih baik dari selera para pemirsa.

 

Jika, salah satu kontestan kalah,
seharusnya Ia bisa dengan mudah mengatakan “Kita berbeda Selera duhai para
penonton,”. Dan siapa yang menang bukanlah yang terbaik,” setidaknya ia mujur
karena lebih banyak penonton yang berselera akan dirinya (Atau punya banyak
penonton yang lebih bersemangat mengirim sms!)

 

Makanya, saya barangkali salah
seorang (atau mungkin Cuma seorang diri???) yang tidak setuju jika sebuah karya
seni untuk menentukan siapa yahg terbaik dan tidak. Termasuk, berdecak heran
ketika Jimmy Page menjadi yang nomor satu di dunia. Jika memang itu adalah
hasil survei, mungkin plihannya kepada Jimmy Page karena dikuping para
samplenya lebih sering mendengung cabikan gitranya Jimmy Page ketimbang
Ridho-nya Slank.

 

Bagi saya, semua gitaris adalah
yang terbaik sepanjang mereka bisa menghibur para penggemarnya.

 

Terminal Senja,

Salman Hasky