October 9, 2006

…tentang perumusan sejarah

Pada tanggal 5 Oktober yang merupakan hari jadi TNI, Engkong Sobri tak mau ketinggalan dengan TNI. Ia bercerita bahwa dirinya juga tak kalah heroic dengan TNI karena ikut berjuang pada masa agresi militer Belanda. Oleh karena itu, nanti ketika bangsa ini merayakan hari pahlawan ia minta saya membelikan martabak untuknya sebagai penghargaan saya pada beliau. Tapi, kata Engkong Sobri hal ini jangan sampai ketahuan Mak Naroh, istri beliau.

Saya sudah tahu kenapa Mak Naroh tidak boleh tahu oleh Engkong Sobri. Karena, Mak Naroh akan komentar bahwa Engkong Sobri tidak pernah berjuang apa-apa. Kala itu Engkong Sobri hanya berjuang untuk mendapatkan cinta gadis bertompel asal Bojong Kenyot. Jika mengenang peristiwa ini, kecemburuan Mak Naroh memuncak hingga keubun-ubunnya. Jika cemburu memuncak di kepala Mak Naroh, maka Mak Naroh akan cuap-cuap tak terkendali akan hal itu tadi, bahwa Engkong Sobri tak pernah berjuang pada agresi militer, ia hanya berjuang ngejar-ngejar gadis bertompel asal bojong kenyot. Bagi Engkong Sobri, ini adalah sebuah pemutarbalikkan sejarah. Sebuah pembunuhan karakter. 

Sebuah peristiwa tidak lahir dari ruang yang kosong. Banyak pihak yang terlibat sekaligus menjadi saksi. Pada perjalanan waktu, sebuah peristiwa kemudian menjadi sebuah sejarah. Peristiwa yang telah melepaskan diri dari waktunya itulah yang dimanai sejarah. Ia telah lepas dari waktu, tapi orang masih melihatnya sebagai sebuah peristiwa. Karenanya, agar tak dilupakan, ia sengaja diabadikan.

Pada proses pengabadian sejarah ini, muncul penafsiran.

Ada

penafsiran yang tunggal dengan sebuah hegemoni, ada juga penafsiran yang majemuk. Penafsiran sangat ditentukan oleh relasi seorang dengan peristiwa yang meliputi hubungan kelas, gender, ideology dan kekuasaan. Itulah mengapa sebuah peristiwa tak luput dari yang namanya kepentingan.

Kemajemukan penafsiran menimbulkan wacara perang yang ujung-ujungnya adalah terciptanya hegemoni pemaknaan pada sebuah peristiwa. Dalam perang penafsiran ini berkaitan dengan konsep ‘who gets what to say what’. Berdasarkan hal itu, kekuasaan menjadi alat yang penting dalam proses hegemoni pemakanaan itu. Dari sini dikenalah apa yang disebut orang dengan kalimat ‘sejarah adalah milik penguasa’. Tak heran jika ada yang beranggapan bahwa sejarah hanya akan membuat senang penulisnya dan orang-orang yang dekat dengannya.

Penulisan sejarah adalah pertarungan citra. Pembentukkan citra yang akan memihak pada penulisan sejarah dimaksud atau justru yang terjadi adalah proses penghancuran.

Sebut saja, tragedy holocaust di eropa pada perang dunia kedua. Dari peristiwa ini lahir dualisme penulisan sejarah. Anggapan pertama mengatakan bahwa tragedi pemusnahan 6 juta ras yahudi itu benar adanya. Anggapan kedua justru meragukan peristiwa tersebut. Dalam pertarung penulisan sejarah holocout ini pemenanganya adalah anggapan pertama yang mengatakan bahwa pemusnahan ras yahudi oleh Nazi memang benar adanya. Kemudian pada beberpa kasus, mereka yang meyakini angggapan kedua justru mendapatkan alienasi dari dunia sosialnya. Namun demikian, belakangan, anggapan kedua ini dimunculkan kembali oleh presiden Iran, Mahmoud Ahmad Dinejad yang mengatakan bahwa holocaust hanyalah sebuah mitos, dan Palestina justru yang menagguk kerugian dari mitos tersebut.

Untuk kasus

Indonesia

pada saat sekarang ini, dua hal yang memiliki keterkaitan dengan tulisan ini adalah peperangan mantan presiden Habibie vs Prabowo serta kasus penghilangan frase PKI dari buku pelajaran sejarah kelas tiga SMU.

Pada kasus pertama (Habibie vs Prabowo) kita bisa pelihat adanya perbedaan pendapat dalam proses ‘penulisan sejarah’. Habibie menuduh Prabowo berniat melakukan kudeta pada saat dirinya menjadi presiden tapi Prabowo dengan lantang segera menangkisnya.

Dari pertarungan pendapat ini orang dapat merangkumnya menjadi kesimpulan yang akan diyakininya. Entah itu pendapatnya Habibie atau pembelaan Prabowo. Keperbihakan orang pada siapa pun itu tergantung relasi jaringan sosial atau komunitas orang tersebut dengan kedua tokoh diatas. Akhirnya, pemenang dari pertarungan Habibie vs Prabowo lebih ditentukan oleh sejauh mana keduanya memiliki simpul-simpul jaringan sosial di masyarakat.

Pada kasus kedua yaitu  penghilangan frase PKI dengan telanjang memperlihatkan kepada kita bagaimana sebuah proses pencucian citra masih terus terjadi meskipun mayoritas kalangan di tanah air meyakini bahwa PKI adalah dalang dari peristiwa 30 September. Saya tidak melihatnya sebagai sebuah ketidaksengajaan.

Ada

sebuah proses yang apik dan cerdik yang bermain didalamnya yang punya kepentingan untuk kembali menghidupkan wacana bahwa ketelibatan PKI dalam peristiwa 30 september aadalah hal yang masih perlu diperdebatkan.

Pada proses penyusunan kurikulum sejarah itu, Depdiknas melakukan konsultasi dengan pakar sejarah, guru senior dan pakar psikologi anak. Dari situ disepakati sebuah kurikulum sejarah yang menjadi ruh bagi penulisan buku-buku yang akan dikonsumsi anak sekolah. Dari rantai ini dapat diterka dengan jelas, siap pihak-pihak yang ingin mewacanakan kembali perdebatan keterlibatan PKI dalam peristiwa 30 September sekaligus menciptakan penulisan sejarah yang tidak tunggal.

October 3, 2006

…tentang lawakan dan puasa

Jika anda sedang sahur, coba nyalakan televise. Lihat setiap stasiun televisi niscaya anda akan menekukan acara yang nyaris sama, bertema lawakan dengan tujuan mengocok perut anda. Hampir semua televise memakai seragam lawakan pada jam itu.

Saya sempat berpikir, apa hubungannya melawak dan puasa? Saya sempat mencari-cari alasan kenapa televisi pada jam sahur dan menjelang buka puasa, acara yang dipertontonkan adalah bertema lawakan. Paling tidak, jawaban yang sempat muncul adalah bahwa saat makan sahur orang perlu semacam “kilat” yang dapat menghapus kantuk mereka agar dapat mrenyantap sahur dengan lahap. dan “kilat” yang dirasa cocok untuk itu oleh para pengelola televise adalah lawakan. Begitu juga ketika menjelang buka puasa. Disaat seperti itu, waktu memang terkesan jalan agak lama, oleh karena itu, perlu semacam “kilat” lagi untuk membuat orang tak memperhatikan waktu hingga tiba-tiba waktu berbuka pun tiba. Lagi-lagi, “kilat” yang dianggap pantas oleh pengelola televise adalah lawakan. Ya…kira-kira Cuma itu yang bisa dikira-kira.

Lawakan adalah kegiatan untuk menertawakan kenyataan. Jika anda merasa tak sanggup menerima kenyataan cobalah melihatnya sebagai lawakan yang harus ada dalam hidup anda. Mampu untuk menertawakan kenyataan adalah sebuah sebuah teror yang mantap untuk membangun suasana sekaligus menggairahkannya. Sebagai sebuah teror, maka lawakan idealnya harus mampu mendesak dengan penuh ancaman untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna.

Struktur kehidupan yang tak jelas, hingga diangap oleh kalangan kritis sebagai sebuah realitas yang semu, akan menjadi jelas dengan sebuah lawakan. ‘Jelas’ disini, bagi saya, bukan membalikkan dari sebuah realitas yang semua itu, tapi menganggapnya sebagai hal yang lumrah sebagai akibat dari kaidah kehidupan. Persis seperti Salman Rushdi yang memakai kata ‘akrab’ dari pada ‘terbiasa’  untuk menceritakan bagaimana dirirnya berinteraksi dengan realitas yang menyakitkan dalam hidupnya. Bagi Rushdi, kata ‘akrab’ berkonotasi bahwa kita bisa berdamai dengan realitas tersebut. Sedang kata ‘terbiasa’ mengisyaratkan bahwa kita menyerah dan tidak bergerak sama sekali oleh todongan realitas yang tidak diingakan.

Setuju atau tidak setuju, puasa adalah sebuah realitas yang menyakitkan yang –mau tak mau- harus dijalani sebagai sebuah kewajiban. Sebuah kenyataan untuk menerima rasa haus dan lapar sebagai rasa sakit dan penyembuhan. Puasa kemudian menjadi sebuah refleksi.

Itulah kenapa lawakan dan puasa disandingkan.

“ tapi siapa yang menemukan fomulanya?” tanya Koh Taslim ketika saya, dirinya dan Engkong Sobri sedang ngobrol di gardu hansip.

“itulah gunanya kreativitas”, jawab engkong sobri

“tapi kenapa semuanya pada nayangin yang begituan” koh taslim kurang puas

seorang pengamat komunikasi mengatakan bahwa seragamisme dan kurangnya kreativitas dalam sebuah televise bukanlah hal yang sama. Ia sekaligus mewajarkan bahwa jika saja ada satu program televise yang dianggap berhasil, maka televise lain berbondong-bondong mengikutinya. Kenyataan ini bukanlah sebab dari kurangnya kretivitas dari insan pertelevisian tapi menjelaskan betapa sulitnya mengharapkan feedback dari penonton dan berharap mereka menjadi khalayak yang setia dari televise atau paling tidak dari satu programnya.

Mekanisme survey rating diangap memiliki banyak kelemahan. Apalagi definisi ‘khalayak’ dan ‘menonton televisi’ ketika survey dilakukan masih diperdebatkan. Belum lagi soal metode penelitian kurang cocok dan tranparansi data yang diharapkan dari pembuat survey. Tak heran, jika dalam sebuah semiloka di

Jakarta

pada pertengahan September 2006 menjelaskan perlunya sebuah survey tandingan untuk mempertegas benar atau tidaknya monopoli survey yang dilakukan AC Nielsen.

“acara puasa di televise itu sebagai tanggung jawab tv di bulan puasa” kata engkong sobri

“tanggung jawab social dari televise adalah sebuah hal yang absurd” sambung saya, tapi dalam hati, takut si engkong marah…

Politikus= bajingan?

September 15, 2006

Alkisah, sebuah bis yang membawa anggota DPR yang sedang rekreasi masuk ke sebuah jurang yang sangat terjal. kecelakaan itu diketahui oleh petani yang kebetulan sedang berada ditempat tersebut. tak berapa lama datanglah rombongan SAR dan polisi. apa yang didapati oleh rombongan sar dan polisi itu adalah bahwa semua anggota DPR itu telah di kubur oleh petani. polisi menanyakan kepada para petani apakah sedemikian dahsyatnya kecelakaan itu hingga semua anggota DPR itu tewas. para petani itu mengatakan bahwa anggota DPR itu tewas semua dalam kejadian itu maka mereka berinisiatif menguburkannya. memang ketika pelaksanaan penguburan itu ada sebagian anggota DPR yang berteriak bahwa mereka belom mati jadi jangan dikubur. "tapi", kata seorang polisi pada komandan polisi, "mereka kan aggota DPR yang doyan bohong, maka kami tak gampang percaya dengan teriakan mereka itu, kami sudah sering jadi korban penipuan mereka"!

Cerita sinis diatas paling tidak menguatkan citra bahwa politik itu kotor dan semua orang yang terjun didalamnya akan menjadi kotor. tak dapat dipungkiri bahwa polikuslah yang menggiring dunia politik secara empirik mengusung citra yang tidak menyenangkan. alasannya sederhana, bahwa dunia politik adalah dunia merebut kekuasaan, kekuasaan telah menjadi sebuah ekstasi yang akan membuat hati girang. karenanya kekuasaan menjadi candu bagi elit politik. tak heran, untuk meraihnya, ‘jalan pintas dianggap pantas’ demi sebuah kepentingan untuk merebut kekuasaan.

sebenarnya apa yaang membuat orang begitu tertarik untuk merebut kekuasaan oleh karenanya terjun ke dunia politik? untuk hal ini mungin rumusan M-P-M adalah jalan sederhana untuk menjawabnya. Money dapat merebut Power kemudian power menjadi mesin untuk membuat More Money.

dalam konteks pilkada di tanah air, seorang yang ingin dicalonkan oleh sebuah partai politik paling tidak harus memiliki jumlah uang yang banyak untuk meminang sebuah partai politik agar dia dicalonkan menjadi calon kepala daerah atau wakilnya. jika saja uangnya kurang maka ia mencari suntikan financial dari sponsor seperti pengusaha yang akan ia gunakan sebagai mas kawin untuk melamar di sebuah partai politik. dealnya sudah jelas, jika ia terpilih maka proyek x akan diberikan pada pihak sponsor. panggung politik menjadi arena pelelangan ekonomi. bahkan, kini banyak anggota DPR yang sedang kejar setoran karena pihak sponsor menagih piutangnya yang digunakan ketika kampanye dahulu. janji dengan konstituen ketika kampenye dahulu menjadi hal yang mudah untuk dilupakan. itulah kiranya kenapa dalam sebuah realitas politik, elit politik dari satu partai dapat dengan mudah berkompromi dengan elit partai lain ketimbang dengan konstituennya karena logika politik dengan sangat jelas mengatakan bahwa dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi yang ada cuma kepentingan abadi.

apakah citra politik yang seperti ini akan berjalan terus hingga akhir jaman atau masih bisa dirubah?

pihak skeptis akan berpendapat demikian sedang ada sebagian pihak lain yakin citra tersebut bisa dirubah dengan pembentukan sistim baru yang memungkinkan konstituen menagih janji-janji kampanye politikus. selama ini, tak ada mekanisme penagihan janji dari konstituen kepada elit politik yang dipilihnya, yang ada adalah sebuah pengadilan bahwa publik tak akan memilihnya kembali. tapi, untuk kasus yang terakhir ini publik dapat dengan mudah terlena dengan money politik yang dimainkan elit. oleh karenanya sejalan dengan pembentukan sistim baru tersebut maka publik harus mendapatkan pendidikan politik yang memadai guna menghasilkan sebuah dunia politik yang jauh dari citra yang kotor karena publik memilihnya dengan rasional.

saat ini, gua sedang melanjutkan studi dijurusan komunikasi politik. pada awal kuliah gua menjadi semakin najis dengan yang namanya politik. tapi seorang dosen kemudian mengatakan bahwa partai poltik adalah kekuatan yang besar selain militer, kalau kita tidak acuh terhadap partai politik maka akan ada kekuatan anti demokrasi yang akan bermain digelanggang politik, seperti militer. pilihannya adalah membiarkan itu terjadi atau ikut andil dalam menyehatkan demokrasi di tanah air. atau pilihan terakhir…tak peduli mau demokratis atau engga ini bangsa yang penting hidup tenang, senang-senang, menertawakan realitas politik bangsa ini agar tidak stress, kemudian mati masuk surga. nampaknya yang terakhir ini lebih menarik….silahkan pilih…